Wednesday, August 17, 2016

DIORAMA:
Hidup, Mati, Antara.


Dahlia melayu,
Suburnya mampus—dirampas Gusti.
Batangnya yang garing menjadi aking.
Ditebas sendalu, ajur mumur.

Gemuruh memekik, katanya:
Kepada Waktu,
Mundur.
Mundur, Sayang!

Satu masa,
Ia menyembah fatamorgana.
Sebagaimana seorang hamba;
Kepada Gustinya.

Dan,
Dilihatnya jumantara: tinggi dan agung.
Sedang ia adalah mati,
Tapi hidup.



Yogyakarta, 17 Agustus 2016

E.

Wednesday, July 20, 2016

Kira-kira


Tubuhnya merangkak melampaui batas.
Katanya "selamat tinggal."
Napasnya tersengal-sengal;
Ia kelelahan tapi tak peduli.
Begitulah,
Kira-kira.
E.

Wednesday, June 1, 2016

Suatu Masa

Sepi di Fajar betul-betul keterlaluan;
Mematikan yang hidup,
Memusnahkan yang mati.
Tak ada bisikan,
Tak ada teriakan.
Begitu kosong,
Begitu garing.

Di sampingya terpahat sebuah jasad;
Milik siapa? tak tahu juga.
Jeroannya serasa ingin mencelat, kocar-kacir ke segala sisi.
Dirampoknya segala yang mendarah daging pada semesta;
Tanpa ampun.
Sebagai alasan saja, sebab ia takut ketahuan.

Waktu telah melarikan diri, membawa serta pemandangannya.
Ia tahu, takkan ada yang begini dalam kapan-kapan.
Karenanya ia menulis.
Untuk jaga-jaga,
Sebelum lupa



Bekasi, 2 Juni 2016


E.

Sunday, May 22, 2016

Boyak

Sekali-sekali,
Ia ingin berada di sana—di samping Anyelirnya,
Mendengarkan;
Ketika ia bicara,
Atau sekedar mendengar rontaan napasnya.

Sekali-sekali,
Ia ingin menjadi berani;
Menatap matanya,
Menggali hingga dasar dunianya yang dangkal,
Memahami nestapanya.

Sekali-sekali,
Ia ingin membuka mulutnya;
Menceritakan kisahnya yang garing,
Mengumandangkan sebuah rahasia,
Mengakui kebisuannya.

Sekali-sekali,
Ia ingin.



Yogyakarta, 22 Mei 2016


E

Tuesday, May 17, 2016

Inayah

Tubuh wanita itu telanjang, si pemilik mata melihatnya
Katanya, “paling-paling sundal”
Kemudian pergi

Sedih tak kira-kira ditanggungnya sendiri
Tak ada yang mendengar tangisannya, sebab ia diam




E.


Monday, May 9, 2016

Diam-diam


Ia berjalan sendirian

Jauh, jauh sekali

Angin mengikis tubuhnya, menjadikannya kurus tidak main-main

Tapi ia tak apa-apa


Jalannya diseret-seret

Rupanya ada borok menganga di kakinya

Membusuk atau apalah

Tapi ia tak apa-apa


Kadang-kadang mulutnya komat-kamit, tak tahu sedang apa

Tampaknya berdoa—meminta—entah kepada siapa

Mengada-ada, barangkali suaranya didengar

Ia ingin Ia tahu, ia ada apa-apa.




Yogyakarta, 2016.


E.


Monday, April 25, 2016

Siapa Mengoyak Siapa


Lihat! 
Tunggang langgang lintang pukang dikejar nestapa, pikirmu karena siapa?
Lara memaharaja—menggerogoti sisa-sisa kelakar;
Malam begini kau bilang senja.

Aku benci kau banyak-banyak, Inayah.
Pura-pura buta padahal melihat;
Pura-pura tuli padahal mendengar;
Tak tahan lagi aku, padam sudah.

Kupikir beginilah akhirnya,
Bisu meronta-ronta—tak ada yang bicara.
Mencabik-cabik entah apa;
Aku sungguh mati dan kau biarkan saja.



E.


Tuesday, April 12, 2016

Tanpa Judul


Kosong,
Selalu begitu.
Ia tidak mati untuk siapapun;
Dan tak ada yang bersedia mati untuknya.


E.