Wednesday, December 30, 2015

Sampai Jumpa

mereka semua di situ,
berdiri.
tampak air mata di pipi
—diabaikan begitu saja, jatuh.

kutanya “ada apa?”
Prajurit itu telah gugur, padam jiwa.

klavirnya telah ditekan, nyaring sekali
—menembus senyap;
sekejap saja, lenyap dibawa angin
menghentikan kelakar
menjadikannya nelangsa sampai nyaris mati.

aku tak menangis, Sayang, buat apa?
bukankah semua yang hidup pasti mati?
bukankah kelak, suatu hari, aku pun tak ada lagi?
hilang

“ini adalah akhirnya?” tanyaku, entah kepada siapa.
 
kau mati bukan karena kau mau
kau mati bukan karena mau aku;
di tanah itu, kau abadi
takkan pintang lagi.

selamat jalan dariku;
sampai jumpa. 




E.


Friday, December 18, 2015

Nestapa

aku berusaha lari, padahal kaki pun tak punya.
kuabaikan semesta
sekali saja.

pikirkumati begini rupanya indah juga.

Wednesday, November 11, 2015

Matinya Sang Pujangga

#TIGA
 Kan-jen

Duhai, bagaimana kabarmu?
Sudah lama rasanya tak bertemu
Aku sungguh rindu kau
Tidakkah kau pun begitu?

Duhai, bagaimana kabarmu?
Kabarku sedang tak baik
Ah...kau bahkan diam saja

Sayangku, boleh kupanggil kau begitu?
Bagaimana kabarmu?           



Friday, October 30, 2015

Matinya Sang Pujangga

#DUA
Perpisahan
Hujan;
Tanahnya becek;
Kantilnya layu;
Ia berdiri di situ, diam;
Dalam hatinya ia berkata, “Ah...jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja”
Padahal semua tahu, ia sedang berbohong.

Pria itu mati;
“Semesta...kau sungguh tega”
Ia tak pernah bertanya;
Sebab ia tak peduli;
Baginya, hidup itu begitu;
Terserah saja!

 Selamat tinggal;
Ah, aku tak yakin itu betul-betul kau;
Kau adalah Badiran;
Sudah jelas, namamu berarti keabadian;
Rasanya sudah terlambat, tetapi, demi Tuhan, aku sungguh sayang kau;
Satu-satunya milikku yang paling berharga;

Angin membawanya pergi;
Ia pulang meski tak ingin;
Bayangannya hilang, malam menjadikannya begitu;
Cepat sekali;
Bahkan, rasanya seperti tak pernah ada;
Menyesalpun jadi tak ada gunanya.

Saturday, October 24, 2015

Matinya Sang Pujangga


#SATU
Kosong

Yang Tersayang,  
 
            Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Hari itu kau datang padaku dengan isak tangis, masih ingatkah? Kutanya, apa yang menyebabkan kau mengangis duhai cinta? Katamu manusia. Manusia yang tega, tanpa belas kasih, membunuh ulat yang lemah tak berdaya. Begitu juga aku. Aku dengan tega dan tanpa belas kasih membunuh koloni semut yang lemah tak berdaya. Di mana sebagian dari mereka adalah barangkali ayah, ibu, dan anak. Maafkan aku.

            Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Aku bukan  pembunuh. Aku hanya manusia yang mengabdi kepada Ibu Pertiwi demi membela bangsa dan negara. Maka, jangan benci aku.

            Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Aku sungguh cinta kau lebih dari apapun. Tidakkah kau pun begitu? Maka, ampuni  aku. Manusia yang hina dina ini.

Tertanda,

Aku.

Friday, September 25, 2015

Kepada Semesta,


                Duhai, bagaimana kabarmu? Ah...aku sedang tak baik. Jangan tertawakan aku. Sebab, aku begini adalah salahmu. Salahmu yang tak pernah memberitahu cara dunia ini bekerja. Kau sungguh tega. 

            Duhai, hari ini manusiamu sedang sedih. Benar-benar sedih. Sayang sekali, kau tak pernah tanyakan itu padanya. Bertanya apakah ia baik-baik saja. Kau sungguh tak peduli akan perasaan manusiamu itu. Perasaan yang membuat ia, untuk pertama kalinya, benar-benar ingin mati.

            Duhai, manusiamu telah kehilangan selera hidup. Ia dikhianati oleh kedua matanya. Satu-satunya alat baginya untuk melihat cakrawala. Mata airnya tak lagi mengalirkan air. Samuderanya telah mengering, lenyap, tak berbekas. 

            Duhai, adakah manusia yang lebih menyedihkan dari manusiamu ini? Yang hidup tapi mati, yang melihat tapi buta, yang mendengar tapi tuli, yang bicara tapi bisu. Kau jadikan ia dua di antara yang satu. Kau jadikan ia hitam di antara yang putih. Kau jadikan ia duri di antara bunga-bunga mawar .

            Duhai, ia tahu kau sedang marah padanya. Tapi, mengapa kau jadikan seolah-olah hanya dirinya yang salah?Bagaimana dengan mereka yang bahkan tak pernah menyebut namamu? Bukankah itu sungguh tak adil? Ia manusiamu dan ia bisa apa?

            Tertanda,

Aku.