Friday, October 30, 2015

Matinya Sang Pujangga

#DUA
Perpisahan
Hujan;
Tanahnya becek;
Kantilnya layu;
Ia berdiri di situ, diam;
Dalam hatinya ia berkata, “Ah...jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja”
Padahal semua tahu, ia sedang berbohong.

Pria itu mati;
“Semesta...kau sungguh tega”
Ia tak pernah bertanya;
Sebab ia tak peduli;
Baginya, hidup itu begitu;
Terserah saja!

 Selamat tinggal;
Ah, aku tak yakin itu betul-betul kau;
Kau adalah Badiran;
Sudah jelas, namamu berarti keabadian;
Rasanya sudah terlambat, tetapi, demi Tuhan, aku sungguh sayang kau;
Satu-satunya milikku yang paling berharga;

Angin membawanya pergi;
Ia pulang meski tak ingin;
Bayangannya hilang, malam menjadikannya begitu;
Cepat sekali;
Bahkan, rasanya seperti tak pernah ada;
Menyesalpun jadi tak ada gunanya.

Saturday, October 24, 2015

Matinya Sang Pujangga


#SATU
Kosong

Yang Tersayang,  
 
            Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Hari itu kau datang padaku dengan isak tangis, masih ingatkah? Kutanya, apa yang menyebabkan kau mengangis duhai cinta? Katamu manusia. Manusia yang tega, tanpa belas kasih, membunuh ulat yang lemah tak berdaya. Begitu juga aku. Aku dengan tega dan tanpa belas kasih membunuh koloni semut yang lemah tak berdaya. Di mana sebagian dari mereka adalah barangkali ayah, ibu, dan anak. Maafkan aku.

            Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Aku bukan  pembunuh. Aku hanya manusia yang mengabdi kepada Ibu Pertiwi demi membela bangsa dan negara. Maka, jangan benci aku.

            Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Aku sungguh cinta kau lebih dari apapun. Tidakkah kau pun begitu? Maka, ampuni  aku. Manusia yang hina dina ini.

Tertanda,

Aku.