Friday, September 25, 2015

Kepada Semesta,


                Duhai, bagaimana kabarmu? Ah...aku sedang tak baik. Jangan tertawakan aku. Sebab, aku begini adalah salahmu. Salahmu yang tak pernah memberitahu cara dunia ini bekerja. Kau sungguh tega. 

            Duhai, hari ini manusiamu sedang sedih. Benar-benar sedih. Sayang sekali, kau tak pernah tanyakan itu padanya. Bertanya apakah ia baik-baik saja. Kau sungguh tak peduli akan perasaan manusiamu itu. Perasaan yang membuat ia, untuk pertama kalinya, benar-benar ingin mati.

            Duhai, manusiamu telah kehilangan selera hidup. Ia dikhianati oleh kedua matanya. Satu-satunya alat baginya untuk melihat cakrawala. Mata airnya tak lagi mengalirkan air. Samuderanya telah mengering, lenyap, tak berbekas. 

            Duhai, adakah manusia yang lebih menyedihkan dari manusiamu ini? Yang hidup tapi mati, yang melihat tapi buta, yang mendengar tapi tuli, yang bicara tapi bisu. Kau jadikan ia dua di antara yang satu. Kau jadikan ia hitam di antara yang putih. Kau jadikan ia duri di antara bunga-bunga mawar .

            Duhai, ia tahu kau sedang marah padanya. Tapi, mengapa kau jadikan seolah-olah hanya dirinya yang salah?Bagaimana dengan mereka yang bahkan tak pernah menyebut namamu? Bukankah itu sungguh tak adil? Ia manusiamu dan ia bisa apa?

            Tertanda,

Aku.

No comments:

Post a Comment