Teruntuk...
Pertama-tama aku ingin memperkenalkan
diriku secara pantas, sebab, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah
terdengar, tidak terlihat, dan tak terwakili. Namaku Effrida Ayni, biasa
dipanggil Ida. Aku adalah seorang anak, pelajar, warga negara
Indonesia, dan satu dari banyak masyarakat anggota Perserikatan Bangsa
Bangsa, yang kelak akan menjadi pemimpin, seorang isteri, dan juga seorang ibu.
Kalian mungkin bertanya mengapa dan untuk apa aku menulis postingan ini.
Tugas kalian hanya membaca sampai tuntas, sehingga, tentu saja aku tak perlu
menjawab pertanyaan yang kalian –mungkin—lontarkan. Repot sekali.
Aku adalah anak pertama dari dua
bersaudara. Orang tuaku –dan orang tua lainnya di seluruh dunia-- adalah orang
yang sangat amat luar biasa dan bahkan kata luar biasa pun tak cukup untuk menjelaskan
betapa luar biasanya mereka. Aku tidak pernah bilang “ayah, ibu, aku cinta
kalian” cinta yang aku persembahkan kepada kedua orang tuaku adalah dalam
bentuk perbuatan. Begitupun sebaliknya. Orang tuaku tak ingin puterinya menjadi
gadis yang buruk, sehingga aku –sejak kecil—di sekolahkan di tempat yang best of the best,
karena bagi mereka pendidikan dasar yang super baik akan mempengaruhi bagaimana
diriku kelak menjadi.
Jujur saja sebelum memulai postingan
ini aku sangat takut. Aku takut ini hanya akan menjadi sia-sia dan hanya akan
ada penyesalan setelahnya. Tapi aku salah. Ini hanya akan menjadi sia-sia
apabila aku tidak pernah bersuara, sampai mati aku akan menyesal karena tidak
pernah berbuat apa-apa. Satu hal yang perlu kalian ketahui, ini bukan murni
kisahku, di dalamnya terdapat pula kisah dari seorang sahabatku. Kami sangat
dekat. Dia adalah aku, aku adalah dia.
Masa sekolahku adalah masa-masa yang
paling menyenangkan. Bertemu dengan teman-teman yang luar biasa, guru-guru yang
baik, dan tentu saja hal-hal menyenangkan lain yang tidak pernah aku temukan
ketika aku –kelak-- menjadi seorang pemimpin negeri ini. Namun, menyenangkan
bukan berarti tak ada hal-hal yang menyebalkan. Singkatnya, ada sesuatu yang
membuat masa sekolahku tak se-indah apa yang aku harapkan.
Hal ini terjadi ketika aku duduk di
bangku Sekolah Menengah Pertama (selanjutnya disebut SMP). Pada masa itu aku
dipertemukan dengan lima orang gadis yang –menurutku—luar biasa. Awalnya segala
sesuatu berjalan dengan baik, hingga ada seorang yang bahkan kata “teman” tak
layak untuk disandangnya. Salah satu sahabatku ia hancurkan hanya dengan kata-kata.
Dengan mulutnya ia menghancurkan. Tak hanya sampai disitu, ia bahkan mengajak
orang-orang untuk ikut bergabung, bersama-sama, menghancurkan sahabatku. Bukan
hanya dengan kata-kata kasar yang menghina, tapi juga dengan perbuatan yang tak
pantas. Semua orang (termasuk guru-guru) tahu bahwa sahabatku itu mengalami bullying. Lucunya mereka menutup mata,
mulut, dan telinga mereka untuk jeritan sahabatku yang tak terdengar,
seolah-olah mengisyaratkan sahabatku untuk menyelesaikan masalahnya sendiri
seperti orang dewasa. Yang benar saja!
Aku betul-betul tak tahu apa yang
harus kulakukan untuk melindungi sahabatku, tahu bagaimana perasaanya saja
tidak, sampai akhirnya aku turut merasakannya sendiri. Mereka memakiku dengan
kata-kata kasar. Mereka bahkan berteriak padaku. Sedih? Lebih dari itu. I was in the constant cycle of distraction
dan suppression. Tak ada satupun dari kisahku yang mampu membuatku bertahan
dari kejamnya kata-kata –setidaknya pada saat itu.
Kepada siapapun yang membaca
postinganku ini, aku membuat ini bukan tanpa dasar. Sungguh. Kelak aku –juga kalian--
akan menjadi seorang ibu dan –tentu saja—tidak ingin anak-anakku --dan kalian-- menjadi
saksi, apalagi merasakan bagaimana rasanya
dibuli. Di luar sana banyak beredar
kisah mengenai seseorang yang dibuli, tapi tak ada satupun orang yang peduli –karena,
ayolah, kalian belum pernah merasakannya—cukuplah sampai disitu. Ayo peduli! Saat ini mungkin aku tampak seperti wakil rakyat yang sedang ber-omong
kosong. Tapi tidak –maksudku, tidak kali ini. Anggap saja ini merupakan sebuah
misi mulia, sebuah misi kemanusiaan. Jangan diam, karena diam berarti mati. Hati kalian mati.
Salam,
E.