Friday, July 31, 2015

Tanpa Judul



Teruntuk...

            Pertama-tama aku ingin memperkenalkan diriku secara pantas, sebab, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah terdengar, tidak terlihat, dan tak terwakili. Namaku Effrida Ayni, biasa dipanggil Ida. Aku adalah seorang anak, pelajar, warga negara Indonesia, dan satu dari banyak masyarakat anggota Perserikatan Bangsa Bangsa, yang kelak akan menjadi pemimpin, seorang isteri, dan juga seorang ibu. Kalian mungkin bertanya mengapa dan untuk apa aku menulis postingan ini. Tugas kalian hanya membaca sampai tuntas, sehingga, tentu saja aku tak perlu menjawab pertanyaan yang kalian –mungkin—lontarkan. Repot sekali.
            Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Orang tuaku –dan orang tua lainnya di seluruh dunia-- adalah orang yang sangat amat luar biasa dan bahkan kata luar biasa pun tak cukup untuk menjelaskan betapa luar biasanya mereka. Aku tidak pernah bilang “ayah, ibu, aku cinta kalian” cinta yang aku persembahkan kepada kedua orang tuaku adalah dalam bentuk perbuatan. Begitupun sebaliknya. Orang tuaku tak ingin puterinya menjadi gadis yang buruk, sehingga aku –sejak kecil—di sekolahkan di tempat yang best of the best, karena bagi mereka pendidikan dasar yang super baik akan mempengaruhi bagaimana diriku kelak menjadi.
            Jujur saja sebelum memulai postingan ini aku sangat takut. Aku takut ini hanya akan menjadi sia-sia dan hanya akan ada penyesalan setelahnya. Tapi aku salah. Ini hanya akan menjadi sia-sia apabila aku tidak pernah bersuara, sampai mati aku akan menyesal karena tidak pernah berbuat apa-apa. Satu hal yang perlu kalian ketahui, ini bukan murni kisahku, di dalamnya terdapat pula kisah dari seorang sahabatku. Kami sangat dekat. Dia adalah aku, aku adalah dia.
            Masa sekolahku adalah masa-masa yang paling menyenangkan. Bertemu dengan teman-teman yang luar biasa, guru-guru yang baik, dan tentu saja hal-hal menyenangkan lain yang tidak pernah aku temukan ketika aku –kelak-- menjadi seorang pemimpin negeri ini. Namun, menyenangkan bukan berarti tak ada hal-hal yang menyebalkan. Singkatnya, ada sesuatu yang membuat masa sekolahku tak se-indah apa yang aku harapkan.
            Hal ini terjadi ketika aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (selanjutnya disebut SMP). Pada masa itu aku dipertemukan dengan lima orang gadis yang –menurutku—luar biasa. Awalnya segala sesuatu berjalan dengan baik, hingga ada seorang yang bahkan kata “teman” tak layak untuk disandangnya. Salah satu sahabatku ia hancurkan hanya dengan kata-kata. Dengan mulutnya ia menghancurkan. Tak hanya sampai disitu, ia bahkan mengajak orang-orang untuk ikut bergabung, bersama-sama, menghancurkan sahabatku. Bukan hanya dengan kata-kata kasar yang menghina, tapi juga dengan perbuatan yang tak pantas. Semua orang (termasuk guru-guru) tahu bahwa sahabatku itu mengalami bullying. Lucunya mereka menutup mata, mulut, dan telinga mereka untuk jeritan sahabatku yang tak terdengar, seolah-olah mengisyaratkan sahabatku untuk menyelesaikan masalahnya sendiri seperti orang dewasa. Yang benar saja!
            Aku betul-betul tak tahu apa yang harus kulakukan untuk melindungi sahabatku, tahu bagaimana perasaanya saja tidak, sampai akhirnya aku turut merasakannya sendiri. Mereka memakiku dengan kata-kata kasar. Mereka bahkan berteriak padaku. Sedih? Lebih dari itu. I was in the constant cycle of distraction dan suppression. Tak ada satupun dari kisahku yang mampu membuatku bertahan dari kejamnya kata-kata –setidaknya pada saat itu.
            Kepada siapapun yang membaca postinganku ini, aku membuat ini bukan tanpa dasar. Sungguh. Kelak aku –juga kalian-- akan menjadi seorang ibu dan –tentu saja—tidak ingin anak-anakku --dan kalian-- menjadi saksi, apalagi merasakan bagaimana rasanya dibuli. Di luar sana banyak beredar kisah mengenai seseorang yang dibuli, tapi tak ada satupun orang yang peduli –karena, ayolah, kalian belum pernah merasakannya—cukuplah sampai disitu. Ayo peduli! Saat ini mungkin aku tampak seperti wakil rakyat yang sedang ber-omong kosong. Tapi tidak –maksudku, tidak kali ini. Anggap saja ini merupakan sebuah misi mulia, sebuah misi kemanusiaan. Jangan diam, karena diam berarti mati. Hati kalian mati.
 

 

Salam,

E.







No comments:

Post a Comment