mereka semua di situ,
berdiri.
tampak air mata di pipi
—diabaikan begitu saja, jatuh.
kutanya “ada apa?”
Prajurit itu telah gugur, padam jiwa.
klavirnya telah ditekan, nyaring sekali
—menembus senyap;
sekejap saja, lenyap dibawa angin
menghentikan kelakar
menjadikannya nelangsa sampai nyaris
mati.
aku tak menangis, Sayang, buat apa?
bukankah semua yang hidup pasti mati?
bukankah kelak, suatu hari, aku pun tak
ada lagi?
hilang
“ini adalah akhirnya?” tanyaku, entah
kepada siapa.
kau mati bukan karena kau mau
kau mati bukan karena mau aku;
di tanah itu, kau abadi
takkan pintang lagi.
selamat jalan dariku;
sampai jumpa.
E.
No comments:
Post a Comment